Monday, November 22, 2010

Sejarah SIMANJUNTAK


Anak pertama Raja Marsundung Simanjuntak (Simanjuntak yang pertama) lahir dari Boru Hasibuan, yaitu RAJA Parsuratan Simanjuntak (parhorbo jolo). SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina adalah 3 bersaudara lahir dari Sobosihon Boru Sihotang istri yang berikutnya

Simanjuntak Sitolu Sada Ina yaitu:

1. Raja Mardaup SImanjuntak

2. Raja Sitombuk Simanjuntak

3. Raja Hutabulu Simanjuntak

Mulanya sebutan ‘parhorbo jolo-pudi’ ini merupakan sindiran masyarakat karena pembagian warisan yang aneh oleh RAJA PARSURATAN terhadap adiknya. Sindiran tersebut karna parhorbo jolo sebagai anak tidak adil membagi harta warisan (sawah dan kerbau) sepeninggal ayahanda di Balige. RAJA MARSUNDUNG menikah dengan SOBOSIHON Boru SIHOTANG setelah istrinya Boru HASIBUAN meninggal. RAJA PARSURATAN pernah hampir membunuh SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina sewaktu SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina masih bayi. Ketika RAJA MARDAUP lahir RAJA PARSURATAN hampir membunuhnya namun gagal berkat antisipasi Ompu-nya SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina yaitu SI GODANG ULU (SIHOTANG) maka RAJA MARDAUP selamat. Kisah itu diketahui SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina setelah mereka dewasa, namun SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina tetap tidak pernah menaruh dendam terhadap kakaknya atas pesan dari ibunda tercinta agar SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina tetap menganggap RAJA PARSURATAN sebagai pengganti ayah. Diceritakan oleh CYRUS JALA SIMANJUNTAK (1902-1975) dan Pdt.Ev. SAITUN ROBERTH HASIHOLAN SIMANJUNTAK (1946-2006)

RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK adalah anak kedua dari pasangan TUAN SOMANIMBIL dan istrinya Boru LIMBONG. Mereka mempunyai tiga anak, yitu:

1. SOMBA DEBATA SIAHAAN, menikah dengan Boru LUBIS.

2. RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK, menikah dengan Boru HASIBUAN lalu kemudian setelah duda menikah dengan SOBOSIHON Boru SIHOTANG.

3. TUAN MARRUJI HUTAGAOL, menikah dengan Boru PASARIB

RAJA MARSUNDUNG menikah dengan Boru HASIBUAN lalu mereka menetap di Hutabulu (sekarang Parlumbanan). Mereka dikaruniai seorang putera bernama RAJA PARSURATAN dan seorang puteri bernama SIPAREME. Kehidupan mereka diberkati dengan banyak sekali ternak kerbau hingga orang sering menyebut RAJA MARSUNDUNG dengan sebutan ‘SIMANJUNTAK PARHORBO’.

Mautpun memisahkan dan RAJA MARSUNDUNG menjadi duda setengah umur. Suatu saat dia sakit parah bahkan dia tak sanggup mengurus dirinya sendiri. Menurut adat Batak Toba yang layak mengurus dia hanya Boru LUBIS yang adalah istri abangnya (akang boru). Kalau Boru PASARIBU yang adalah istri adiknya (anggi boru) pantang saling bicara dengan dia begitu juga menantunya (parumaen) tidak boleh berbicara dengan dia sebab begitu adatnya. Sementara puterinya sendiri, SIPAREME segan mengurusnya sampai perkara yang sangat sensitif.

Kemudian RAJA MARSUNDUNG pulih lalu SOMBA DEBATA SIAHAAN menganjurkan padanya agar dia menikah lagi supaya ada yang mengurusnya kelak apabila dia sakit. Hal ini tidak disetujui RAJA PARSURATAN dan TUAN MARRUJI HUTAGAOL namun, karena fakta dan pengalaman pahitnya, RAJA MARSUNDUNG setuju untuk menikah lagi.

Pada masa itu ada istilah kalau ingin mencari istri pengganti maka sebaiknya pergi menyeberangi danau Toba (versi asli: molo mangalului panoroni ba borhatma tu bariba ni tao Toba). SOMBA DEBATA SIAHAAN dan RAJA MARSUNDUNG pun berangkat ke daerah Si Raja Oloan. Di sana ada seorang lelaki yang agak asing rupa fisiknya. Bentuk kepalanya besar dan dia dinamai RAJA SI GODANG ULU SIHOTANG. Keanehan ini juga tampak pada anak – anaknya sehingga terkadang mereka sering dikucilkan banyak orang sampai – sampai walaupun puterinya sendiri SOBOSIHON berumur banyak belum ada laki – laki yang mau melamarnya hingga RAJA MARSUNDUNG melamarnya.

Kedatangan RAJA MARSUNDUNG melamar SOBOSIHON sangat menggembirakan hati RAJA SI GODANG ULU walaupun yang melamar puterinya adalah seorang duda yang sudah memiliki anak. Namun itu bukan persoalan baginya dan pernikahan secara adat sepenuh (adat na gok) dilakukan. Wali pengantin prianya adalah SOMBA DEBATA SIAHAAN. SOBOSIHON pun menjadi istri RAJA MARSUNDUNG. Mereka bermukim di Parlumbanan (saat narator berkunjung ke daerah Parlumbanan lokasi daerah ini merupakan persawahan).

Setelah tiba waktunya bagi SOBOSIHON untuk melahirkan, beberapa hari sebelumnya dia telah memberi kabar kepada ayahnya tentang keadaannya itu. Namun, perasaan sang calon ibu ini gelisah setelah mendapat mimpi; ketika SOBOSIHON akan mandi di Aek Na Bolon, setelah dia membuka bajunya tiba – tiba petir menyambar buah dadanya sebelah. Mimpi ini juga diberitahukan kepada RAJA SI GODANG ULU. Setelah mendengar kabar dan mimpi puterinya itu dia menyuruh menantu perempuannya (parumaen) berangkat menemui puterinya di Parlumbanan Balige. Padahal menantunya ini baru lima hari selesai melahirkan bayi perempuan namun, karena taat kepada mertuanya dia tetap bersedia pergi disertai tugas dan pesan khusus dari RAJA SI GODANG ULU. Adapun tugas dan pesan itu;

- Memberitahu SOBOSIHON bahwa akan ada bahaya yang mengancam bayinya setelah dia bersalin.

- Apabila bayi yang lahir laki – laki maka bayi itu harus ditukarkan dengan bayi perempuan menantunya ini dan bayi laki – laki itu harus dipangku dan disusui oleh menantu RAJA SI GODANG ULU ini sampai bahaya berlalu.

- Kelak apabila kedua bayi itu sudah dewasa maka mereka sebagai berpariban telah dipertunangkan sejak lahir (dipaorohon).

Sesampainya di Parlumbanan, menantu RAJA SI GODANG ULU atau yang disebut ‘Nantulang Na Burju’ oleh Parhorbo pudi ini, dia mendapati SOBOSIHON sedang bergumul dibantu dukun beranak (sibaso) untuk bersalin. Lalu kemudian lahirlah bayi laki – laki dan setelah dimandikan sang bayi langsung ditukarkan sesuai pesan tadi.

Diadakanlah acara makan bersama (pangharoanion) untuk syukuran kelahiran bayi itu. Seluruh penduduk kampung diundang. Mendengar kabar bahwa adik tirinya adalah laki – laki maka RAJA PARSURATAN menjadi benci dan ingin membunuh adiknya itu sebab menurutnya kelak akan ada pewaris harta ayahnya selain dia.

RAJA PARSURATAN pun datang ke acara itu dan dia membawa pisau penyadap pohon enau di dalam sarung yang terselip di pinggangnya. Kehadirannya membuat semua orang terharu sebab selama ini dia memusihi ibu tirinya, namun di saat kegembiraan dirasakan dan dirayakan ibu tirinya dia turut hadir di sana. itulah penilaian orang kebanyakan. Padahal RAJA PARSURATAN hendak memanfaatkan momen ini untuk membunuh adik tirinya. Lalu dia meminta supaya dia boleh memangku adiknya yang baru lahir itu. Dan bayi yang telah bertukar tadi pun dipangkunya sampai bayi itu basah atau kencing. RAJA PARSURATAN ingin mengganti kain popok adiknya.

Inilah kesempatan bagi RAJA PARSURATAN. Ketika mengganti kain popok adiknya maka dia berencana untuk menyelipkan pisau ketika kain itu dipakaikan. Dia pun meminta kain pengganti itu pada SOBOSIHON. Namun SOBOSIHON takut kalau – kalau RAJA PARSURATAN tahu bahwa bayi yang dipangkunya bukanlah adiknya. Dia mengatakan pada RAJA PARSURATAN supaya biarlah ibu yang mengganti kainnya. Akan tetapi karena RAJA PARSURATAN tetap berkeras untuk mengganti kain adiknya maka orang banyak pun menyuruh SOBOSIHON agar menurutinya.

Saat membuka kain basah bayi yang dipangkunya RAJA PARSURATAN terperanjat karena bayi yang dilihatnya bukanlah bayi laki – laki. Merasa niatnya sudah terbaca maka geramlah hatinya dan dia berdiri lalu melangkahi bayi itu dan berjalan menghampiri SOBOSIHON dan berkata; “Orang mengatakan bahwa yang lahir adalah adikku laki – laki tetapi engkau telah menipuku dengan memberi anak perempuan orang lain untuk aku pangku, inilah bagianmu” RAJA PARSURATAN menghujamkan pisau tepat di dada dan memotong buah dada SOBOSIHON lalu setelah itu lari meninggalkan acara yang dalam keadaan kacau.

RAJA PARSURATAN tidak berhasil menemukan dan membunuh adiknya tetapi buah dada SOBOSIHON ibu tirinya telah menjadi tumbalnya (daupna) maka bayi laki – laki itu diberi nama RAJA MARDAUP. Demikianlah RAJA MARDAUP diselamatkan ‘Nantulang Na Burju’ yang rela menyeberangi danau Toba demi menyampaikan pesan RAJA SI GODANG ULU. Itulah sebabnya sampai sekarang semua keturunan SIMANJUNTAK dari SOBOSIHON sangat menghormati keturunan dari SI GODANG ULU yaitu marga SIHOTANG.

SOBOSIHON melahirkan bayi perempuan. Kabar ini terdengar ke seluruh penduduk daerah Si Bagot Ni Pohan. Namun hal ini tidak meresahkan hati RAJA PARSURATAN sebab dalam tradisi Batak anak perempuan tidak berhak dalam pembagian warisan. Jadi kelahiran adik tiri yang perempuan ini turut menggembirakan RAJA PARSURATAN. Sang bayi diberi nama SI BORU HAGOHAN NAINDO.

Selang beberapa tahun kemudian SOBOSIHON melahirkan lagi. Begini ceritanya sehingga sang bayi diberi nama RAJA SITOMBUK.

Tak henti – hentinya RAJA PARSURATAN mengamati kehidupan ibu tirinya yang dia anggap bisa mengurangi jatah harta warisan untuknya kelak. Dia bertanya kepada orang pintar apa jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan ibunya. Setelah mengetahui bahwa bayi laki – laki jawabannya, dia berusaha merancang kecelakaan agar bayi itu tidak bernyawa saat dilahirkan.

Saat ayah dan ibunya tidak berada di rumah, dia bekerja keras untuk memotong kayu penghalang papan yang ada tepat di sekeliling tiang tengah rumah (tiang siraraisan) dimana setiap ibu rumah tangga yang hendak bersalin akan menyandarkan badannya di tiang itu dan kain pegangan yang dipakai untuk bersalin juga digantungkan di situ.

Adapun maksud RAJA PARSURATAN supaya ketika ibunya bersalin kayu penghalang papan itu rubuh ketika diduduki setelah itu sang bayi akan celaka terhimpit. Apa yang terjadi? Ternyata kayu itu patah sebelum sang bayi lahir dan tembuslah lantai rumah itu.Karena kaget setelah tergeletak di kolong rumah, seketika itu melahirkanlah SOBOSIHON dan bayinya selamat. Bayi itu diberi nama RAJA SITOMBUK. Tombus dalam bahasa Indonesia ‘tembus’. Papan lantai rumah telah tembus dan kejadian itu pulalah yang membuat bayi dilahirkan selamat walau tanpa bantuan dukun beranak.

Dengan bantuan dukun beranak lahirlah bayi perempuan yang kedua bagi SOBOSIHON lalu oleh RAJA MARSUNDUNG bayi itu diberi nama SI BORU NAOMPON. Sebelum proses persalinan RAJA PARSURATAN telah mengetahui dari orang pintar bahwa adiknya adalah perempuan. Hal ini tidak menjadi masalah baginya walau ketamakan akan harta warisan masih memenuhi hati dan pikirannya saat itu.

Rupanya kali ini RAJA PARSURATAN pergi lagi bertanya kepada orang pintar perihal jenis kelamin adik tirinya yang akan lahir. Jawaban dan pemberitahuan yang diterimanya bahwa adiknya adalah laki – laki. Dia teringat akan permintaan orang Batak perihal rumah; “Jabu sibaganding tua ima hatubuan ni anak dohot boru si boan tua”. Artinya “Rumah tempat berbagai macam tuah adalah tempat lahirnya putera dan puteri pembawa tuah”.

Kali ini RAJA PARSURATAN ingin memusnahkan rumah tempat tinggal ayahnya dan ibu tirinya. Dia sendiri telah mempunyai rumah setelah menikah dan pisah rumah dari orang tuanya (manjae). Dia hanya mempunyai seorang anak laki – laki dan dia merasa posisinya kelak terancam jika semakin banyak anak laki – laki yang dilahirkan ibu tirinya. Inilah yang membuat dirinya selalu ingin berbuat sesuatu untuk melenyapkan setiap bayi laki – laki dari ibu tirinya.

Waktunya tiba dan SOBOSIHON akan melahirkan bayinya. Para ibu bersama dukun beranak telah berkumpul dan memasuki rumah RAJA MARSUNDUNG. Dari kejauhan RAJA PARSURATAN mengamat – amati mereka. Setelah melihat mereka telah masuk ke rumah maka RAJA PARSURATAN membawa sulutan api. Dia membakar atap rumah dari bagian dapur. Api menyala dan semua ornag berhamburan keluar rumah termasuk SOBOSIHON. Dia panik sambil berteriak api..api..api..api.. Dia pun berpegangan pada batang bambu yang berada di pinggir pekarangan rumahnya.

Tidak lama kemudian, orang – orang berdatangan ke sana dan berusaha bergotong – royong memadamkan api. Perhatian orang teruju pada rumah yang mulai terbakar dan pada saat itu pula di bawah pohon bambu lahirlah anak kelima dari SOBOSIHON yang kemudian diberi nama RAJA HUTABULU karena bayi itu dilahirkan di bawah pohon bambu di kampungnya.

Walaupun selalu mendapat rintangan namun SOBOSIHON tetap tabah dalam setiap proses persalinannya karena RAJA MARSUNDUNG dan keluarga SOMBA DEBATA SIAHAAN terutama Boru LUBIS sangat memperhatikan dan mengasihinya.

Usia RAJA MARSUNDUNG kira – kira telah lebih delapan puluh tahun lalu dia meninggal dunia. Kepergian suaminya sangat membuat hati SOBOSIHON sedih sementara anak bungsu mereka masih menyusui dan keempat anaknya yang lain masih belum cukup dewasa.

Bagi suku Batak Toba anak tertua adalah pengganti ayah bagi adik – adiknya. Yang paling kehilangan sosok ayah hanya anak tertua. RAJA PARSURATAN menggantikan kedudukan ayahnya dalam segala hal penting dia menjadi kepala keluarga. Situasi ini dimanfaatkan RAJA PARSURATAN untuk menguasai semua aspek kehidupan ibu tiri dan adik – adiknya sehari – hari. Dia selalu bersikap diktator terhadap adiknya terutama yang laki – laki. Namun SOBOSIHON selalu mengingatkan anak – anaknya agar mereka selalu menghormati abang tirinya yang adalah pengganti ayah.

Setelah beberapa tahun ayahnya meninggal RAJA PARSURATAN memanfaatkan tenaga keenam orang adiknya dengan anak tunggal serta istrinya untuk mengusahakan semua kebun dan sawah peninggalan mendiang ayahnya dan dikelola seefektif mungkin. Perekonomian RAJA PARSURATAN pun meningkat. Dia kemudian membangun rumah ukir (ruma gorga).

Setelah bangunan induk selesai maka proses berikutnya dalam pembangunan rumah ukir tersebut adalah pembuatan ukiran. Untuk mengukir relif rumah pada masa itu lazim digunakan darah manusia sebagai campuran pewarna relif. Hal tersebut agar rumah itu mempunyai semangat atau ada keangkerannya. Mengingat RAJA PARSURATAN bukanlah seorang yang kuat dalam berperang maka tidak mungkin baginya mendapatkan darah manusia dengan cara berperang melawan negeri lain.

Timbullah niat jahat RAJA PARSURATAN terhadap saudara tirinya. Pada suatu sore dia meliahat kedua adik perempuannya tampak akrab sebab memang SIPAREME sudah gadis dan HAGOHAN NAINDO mulai remaja. RAJA PARSURATAN ingin membunuh adik tirinya untuk diambil darahnya sebagai campuran pewarna rumah ukirnya. Kedua adik perempuannnya ini sering sama – sama tidur dengan SOBOSIHON ibu mereka. Hampir setiap malam keduanya menganyam tikar (mangaletek) dan bila sudah larut mereka tidur tanpa menyalakan lampu. Sedangkan untuk menghindari gigitan nyamuk mereka menutup badannya dengan tikar (marbulusan). kebiasaan tidur marbulusan ini sampai sekarang masih dapat kita jumpai di beberapa daerah di Tapanuli Utara. Demikianlah tiap malam cara kedua gadis ini menghabiskan waktu.

Tentang rencana jahat RAJA PARSURATAN, untuk membedakan yang mana yang harus dibunuh maka kepada SIPAREME diberikan sebuah gelang yang terbuat dari gading. Konon gelang itu merupakan pusaka pemberian dari mendiang Boru HASIBUAN, ibu kandungnya RAJA PARSURATAN. Lalu SIPAREME pun memakai gelang itu. Melihat gelang yang sangat putih dan menyala dalam gelap, HAGOHAN NAINDO tertarik akan gelang itu. Dia meminjam dan kemudian memakainya. Seperti biasanya mereka menganyam tikar setelah malam tiba mereka tidur marbulusan dan gelang tadi masih di tangan HAGOHAN NAINDO.

Malam itu menjelang subuh datanglah pembunuh bayaran ke rumah RAJA PARSURATAN dengan membawa pisau. RAJA PARSURATAN berpesan pada pembunuh itu bahwa sekarang ada dua gadis yang tidur di rumah ayahnya dan gadis yang tidak memakai gelanglah yang harus dibunuh. Pembunuh itupun melaksanakan tugasnya kemudian SIPAREME dibunuh lalu darahnya ditampung dan diberikan kepada RAJA PARSURATAN. Sementara mayat SIPAREME dibuang ke lembah yang tak dapat dituruni yaitu yang sekarang terletak di lembah Sipintu Pintu (perbatasan antara Balige dengan Siborong Borong). Matahahari pun terbit dengan air mata dan tangisan HAGOHAN NAINDO karena kakaknya telah hilang.

Demikianlah rencana jahat RAJA PARSURATAN dimana dia hendak membunuh HAGOHAN NAINDO tetapi yang terbunuh adalah SIPAREME yaitu adik kandungnya satu – satunya.

Melihat tindak – tanduk anak tirinya SOBOSIHON selalu bersusah hati, apalagi setelah SIPAREME diketahui dibunuh dan darahnya dijadikan campuran pewarna ukiran rumah RAJA PARSURATAN. Hal ini membuat SOBOSIHON jatuh sakit hingga penyakitnya parah. Saat penyakitnya semakin memburuk, dia dikelilingi kelima anaknya, sedang RAJA PARSURATAN seperti biasanya pergi ke sawah.

Saat itu SOBOSIHON berpesan:

* Jangan lupakan apa yang telah dilakukan oleh abangmu RAJA PARSURATAN akan tetapi, jangan balaskan perbuatan jahatnya karena hanya MULA JADI NA BOLON (Tuhan) sajalah yang akan membalaskannya.

* RAJA PARSURATAN itu adalah abangmu sebagai ganti ayah bagimu, dimana dia duduk janganlah kamu menghampiri dan jika kamu sedang duduk di suatu tempat kalau dia datang tinggalkanlah dia, karena dia adalah ganti ayah bagimu yang harus kamu hormati.

* Jangan kamu menyusahkan hatinya walaupun dia menyusahkan kamu, bila kamu sedang menyalakan api di dapur rumahmu atau dimana saja lalu asapnya terhembus angin ke rumahnya atau ke arah di mana abangmu berada padamkanlah apimu itu supaya dia tidak mengeluarkan air mata karena asap apimu walaupun kamu harus terlambat menyiapkan masakanmu.

* Jangan bertengkar dengan abangmu, sebab itu apabila tanamanmu ada yang condong tumbuh mengarah ke pekarangan rumahnya seumpama tanaman pisangmu sedang tumbuh dan berjantung maka lebih baik tebang saja itu dari pada setelah buahnya ada lalu diambil oleh anaknya dan kamu tidak bisa menahan emosimu dan bertengkar.

Setelah menyampaikan pesannya SOBOSIHON menghembuskan nafas terkahir. Pesan inilah yang kemudian sampai saat ini terus mewarnai pola hidup dari keturunan RAJA MARDAUP, RAJA SITOMBUK dan RAJA HUTABULU dan pesan – pesan tersebut sangat dihargai dan dituruti oleh seluruh keturunan SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA.

Setelah beberapa tahun SOBOSIHON meninggal, keluarga SIMANJUNTAK tiga bersaudara satu ibu ini dilanda kesedihan karena SI BORU HAGOHAN NAINDO gadis yang rupawan ini meninggal dunia dengan cara yang menyedihkan.

Suatu hari pada musim panen RAJA PARSURATAN telah menyabit sawahnya dan padinya telah dikumpulkan di sawah hanya tinggal menunggu dibersihkan dari batangnya saja. Cara membersihkannya dengan menginjak – injak batang padi yang ada bagian bulirnya (mardege). Untuk mardege biasanya dilakukan secara bergotong – royong bersama para tetangga di waktu subuh supaya ketika matahari terbit dan panas menyengat padi yang sudah dilepas dari jeraminya tinggal dijemur dan pada sore hari padi tinggal dibersihkan dari sekam dengan bantuan angin (mamurpur).

Pada pagi yang naas itu RAJA PARSURATAN beserta beberapa orang berangkat ke sawah untuk mardege. Sebelum berangkat dia berpesan pada SI BORU HAGOHAN NAINDO agar menyiapkan makan siang dan membawanya ke sawah. Makan pagi telah dibawa istri RAJA PARSURATAN. Sebenarnya ini adalah rencana jahatnya terhadap adiknya. sebab sesungguhnya bekal makan pagi tidak jadi dibawa ke sawah.

Menjelang siang semua orang yang bergotong – royong bekerja di sawah sudah bersungut – sungut karena rasa lapar dan mereka berkata; “DImana adikmu yang akan membawakan makanan pagi ini, kenapa dia belum datang juga?”. Sebelumnya RAJA PARSURATAN mengatakan pada mereka bahwa dia sudah berpesan pada adiknya agar makan pagi dipersiapkan, namun sebenarnya tidak demikian.

Sekira pukul sebelas atau menjelang teriknya panas matahari (mareak hos ni ari) datanglah SI BORU HAGOHAN NAINDO dengan membawa makanan tetapi dia disambut dengan caci maku oleh semua orang. Lalu RAJA PARSURATAN mengambil hidangan yang dijunjung di atas kepala SI BORU HAGOHAN NAINDO dan langsung mencampakkan air panas ke wajahnya. SI BORU HAGOHAN NAINDO meraung – raung kesakitan wajahnya melepuh. Saat itu pula RAJA PARSURATAN mengambil jerami dan menutupi badan SI BORU HAGOHAN NAINDO lalu menyulut jerami itu dengan api sehingga SI BORU HAGOHAN NAINDO terbakar hidup – hidup.

Demikianlah SI BORU HAGOHAN NAINDO mati dalam rasa sakitnya yang tak terperikan. Setelah tak bernyawa dia ditanam tanpa sepengetahuan saudara – saudaranya. Namun, bagaimanapun setiap perbuatan busuk akan tercium juga baunya. Salah seorang yang mengetahui pembunuhan itu berpihak kepada keturunan SOBOSIHON dan menceritakannya pada mereka. Hal ini sering membuat puteri (boru) SIMANJUNTAK yang mengetahui kisah ini merasa sakit hati terhadap Parhorbo jolo hingga kini.

Kematian SI BORU HAGOHAN NAINDO membuat SI BORU NAOMPON trauma untuk menjalani hidup tinggal di Balige. Dia sering menangis mengingat tragedi maut yang dialami kedua kakaknya. Dia meminta pada ketiga saudaranya agar dia diantar ke daerah Si Raja Oloan ke rumah RAJA SI GODANG ULU SIHOTANG (Ompungnya). Hal ini membuat ketiga saudaranya terharu.

Muncul persoalan. Siapa yang akan memasak makanan dan mengurus rumah apabila SI BORU NAOMPON pergi? RAJA HUTABULU berkata pada abangnya; “Bukankah dulu abang RAJA MARDAUP telah ditunangkan dengan paribannya sejak lahir? Sekarang abang ambil saja dia menjadi pendamping abang secepatnya agar ada yang mengurus rumah dan memasak makanan untuk kita”.

Perkataan ini membuka jalan pikiran ketiga saudaranya dan sekaligus membuka jalan bagi SI BORU NAOMPON untuk dapat tinggal di kampung Ompugnya. Lalu mereka berangkat ke sana. Setelah SI BORU NAOMPON diantar kemudian ketiga bersaudara ini kembali ke Balige bersama pariban yang telah menjadi istri RAJA MARDAUP, yaitu Boru SIHOTANG cucu SI GODANG ULU yang kemudian melahirkan tiga orang anak laki – laki:

1. NA MORA TANO, kemudian menikah dengan Boru SIHOTANG.

2. NA MORA SENDE, kemudian menikah dengan Boru SIHOTANG.

3. TUAN SI BADOGIL, kemudian menikah dengan Boru SIAGIAN PARDOSI.

Demikianlah kisah pertunangan antara RAJA MARDAUP dengan paribannya yang sudah dipertunangkan dari lahir dan kemudian berakhir dengan pernikahan setelah mereka dewasa.

Suatu saat terdengar kabar bahwa di Laguboti ada seorang gadis cantik puteri dari RAJA ARUAN dan cucu dari PANGULU PONGGOK. Gadis ini sangat pintar menyanyi dan merdu suaranya. Mendengar kabar itu RAJA SITOMBUK yang pintar bermain seruling bambu dan menguasai hampir semua lagu yang populer pada zamannya, datang bertandang ke Laguboti.

Setibanya di sana dia kemudian meniup serulingnya. tanpa diketuk pintu rumah para gadis di Laguboti telah terbuka untuknya bahkan kadang – kadang mereka datang melihat permainan suling itu dari dekat. Pilihan si pemuda ganteng ini jatuh pada gadis tercantik dan yang pintar pula menyanyi. Setiap RAJA SITOMBUK bertandang ke Laguboti, kehadirannya ini selalu menjadi acara hiburan bagi muda – mudi setempat.

RAJA SITOMBUK menyampaikan maksudnya ingin mempersunting Boru ARUAN pada amang tuanya yaitu SOMBA DEBATA SIAHAAN dan juga RAJA MARDAUP abangnya. Sepeninggal mendiang SOBOSIHON, RAJA PARSURATAN sudah tidak perduli lagi terhadap keturunan SOBOSIHON.

Akhirnya pesta adat sepenuh pun (adat na gok) diadakan untuk memperistri Boru ARUAN. Dari pernikahan ini RAJA SITOMBUK memperoleh seorang anak laki – laki bernama RAJA MANGAMBIT TUA.

Puteri dari RAJA MARSUNDUNG yang hidup hanya SI BORU NAOMPON. Dia tinggal bersama ompungnya di Si Raja Oloan. Suatu kali pada musim panen RAJA MARDAUP dan RAJA SITOMBUK sepakat untuk mengutus RAJA HUTABULU berangkat ke rumah ompung mereka menjemput SI BORU NAOMPON menggunakan sampan kecil (solu pardengke).

tugu.jpg

Tugu Sobosihon br Sihotang

Kemudian RAJA HUTABULU tiba di rumah ompungnya dengan selamat. Dia memberitahukan bahwa maksud dan tujuannya untuk menjemput SI BORU NAOMPON. Lalu SI BORU NAOMPON diberangkatkan oleh Tulang dan ompungnya dengan acara makan khusus disertai doa agar kiranya SI BORU NAOMPON segera menemukan jodoh (sirongkap ni tondi). Setelah itu berangkatlah mereka berdua menuju Balige.

Dalam perjalanan menggunakan sampan di danau Toba yang luas angin berhembus kencang. RAJA HUTABULU berusaha mengayuh dayungnya agar sampan bergerak menuju arah yang dikehendaki. Tiba – tiba dayungnya patah dan hanyut terbawa ombak. Dalam keadaan terombang – ambing sampan itu mengikuti arah angin dan untuk menenangkan keadaan SI BORU NAOMPON bernyanyi; “Ue..luahon ahu da parau, ulushon ahu da alogo manang tudiape taho, asalma tu topi tao”.

Mendengar ada suara wanita bernyanyi, seorang pemuda yang sedang berada di tengah danau Toba dekat bagian pantai Marom langsung mengayuh sampannya menuju sumber suara itu. Setelah mendekatkan sampannya dia melihat ada dua orang dalam sebuah sampan dan mereka tidak mempunyai dayung. Setelah mengetahui bahwa keduanya bersaudara maka pemuda itu (NA MORA JOBI SIRAIT) membawa mereka ke Marom dan beristirahat satu malam di sana.

Keesokan harinya dengan dayung baru serta dipandu NA MORA JOBI SIRAIT, mereka bertolak dari Marom menuju Balige. Inilah pertemuan antara SI BORU NAOMPON dengan NA MORA JOBI SIRAIT dan dengan senang NA MORA JOBI SIRAIT mengantar sampai ke Balige. Beberapa hari kemudian mereka berdua sepakat untuk menikah. NA MORA JOBI SIRAIT pun pulang dan memberitahukan hal itu pada orangtuanya yang sudah melihat kecantikan SI BORU NAOMPON. Dengan senang mereka setuju dan mendukung permintaan puteranya lalu berangkat melamar SI BORU NAOMPON.

RAJA PARSURATAN sudah semakin tua dan jika hendak pergi kemana – mana dia enggan pergi sendirian. Kadang – kadang dia membawa anak tunggalnya kalau bepergian tetapi sering juga bersama adik tirinya yang masih lajang yaitu RAJA HUTABULU. Suatu saat RAJA PARSURATAN pergi dan RAJA HUTABULU ikut serta sebagai pembawa kantongan (sitiop hajutna). Mereka berjalan mengikuti jalan setapak naik turun lembah. Ketika mereka berjalan di dataran tinggi Silangit tiba – tiba RAJA HUTABULU melihat segumpal benda jatuh dari atas dan dikerjarnya ke depan lalu ditangkap menggunakan ulos hande handenya kemudian dibungkusnya.

RAJA PARSURATAN melihat adiknya berlari dan berkata; “Adikku, benda apa yang tadi kamu tangkap?”. Sahut adiknya; “Abang yang kuhormati, aku belum tahu apa yang kutangkap dan bungkus ini, tetapi aku akan membukanya dan memberitahukan apa isi ulosku ini pada abang apabila kita sudah kembali ke kampung kita, asalkan abang berjanji akan membagikan harta peninggalan mendiang ayah kita”. Tanpa pikir panjang RAJA PARSURATAN pun setuju. Sebenanrnya RAJA MARDAUP dan RAJA SITOMBUK tidak pernah berani meminta bagian harta warisan pada abang mereka.

Setelah kembali ke kampung RAJA HUTABULU menceritakan pada kedua abangnya tentang apa yang dia katakan pada abangnya dalam perjalanan dan juga tentang janji abangnya yang akan membagi harta warisan.

Tibalah waktunya, tua – tua kampung diundang datang berkumpul menyaksikan pertemuan itu. RAJA HUTABULU menyatakan maksudnya pada kumpulan tua – tua itu (ria raja). “Karena ada sesuatu yang jatuh dari atas dan kutampung lalu kubungkus dengan ulos hande handeku dan ini terjadi dalam perjalanan aku dan abang yang kuhormati sewaktu di Silangit. Abang kami ini ingin mengetahui apa isi dari bungkusan ini yang aku sendiri juga belum tahu. Namun abang yang kuhormati ini telah berjanji akan memberikan bagian warisan peninggalan mendiang ayah kami apabila aku menunjukkan dan membagi benda yang akan kita lihat ini”. Perkataan tersebut dibenarkan oleh RAJA PARSURATAN dan disaksikan oleh semua orang yang berkumpul di halaman rumah RAJA MARSUNDUNG ayah mereka.

Maka dihadapan para tua – tua RAJA HUTABULU membuka bungkusan hande handenya itu dan tampaklah abu bekas sarang burung yang terbakar di dalamnya. Setelah RAJA PARSURATAN melihat dia mengatakan bahwa bukannya dia tidak mau membagi warisan dan kemudian dia berkata; “Tunggu kalianlah dapat dulu dua bulan”. Lalu kumpulan pun bubar dengan kesimpulan bahwa setelah dapat waktunya dua bulan baru akan ada pembagian warisan.

Dua bulan kemudian RAJA HUTABULU mengumpulkan tua – tua kampung untuk melakukan ria raja. Di hadapan ria raja RAJA PARSURATAN berkata pada adiknya; “Mana bulan yang sudah kamu dapat, sudahkah ada dua?”. Semua yang mendengarnya heran ternyata maksud dari ucapan RAJA PARSURATAN pada ria raja sebelumnya bukanlah mengenai tenggang waktu dua bulan, tetapi tentang mendapatkan dua buah bulan. Maka ria raja berakhir dengan mengecewakan pihak tiga bersaudara seibu.

Dua minggu kemudian malam harinya ketika posisi bulan persis berada di atas di langit, pergilah RAJA HUTABULU ke sumur tempat dimana dulu mendiang ayahnya biasa mandi. Dia menatap ke permukaan air dalam sumur dan melihat bayangan bulan di situ. Segera dia bergegas menjumpai kedua abangnya dan mengatakan bahwa dia baru saja menemukan dua buah bulan.

Dengan rasa was – was kedua abangnya dan RAJA HUTABULU kembali mengundang tua – tua kampung. Setelah semuanya hadir termasuk RAJA PARSURATAN lalu RAJA HUTABULU berdiri dan berkata; “Amang raja na liat na lalo, lumobi di ho angkang raja na malo, didokhon ho dung dapot dua bulan asa lehononmu parbagianan sian na pinungka ni amanta na hinan. On pe saonari ba nunga dapothu be alus ni hatami raja bolon. Betama hita tu parmualan paridian ni amnta an”. Artinya; “Bapak – bapak sekalian kumpulan yang terhormat, amat terlebih abang yang kuhormati, kamu berkata setelah dapat dua buah bulan barulah kamu memberikan warisan dari mendiang ayah kita dan kini aku sudah menemukannya. Marilah kita bersama – sama pergi ke sumur tempat madi ayah.

Seluruh yang hadir di situ berjalan menuju sumur. Setibanya di sana RAJA HUTABULU menunjuk ke permukaan air di dalam sumur dan terlihat ada bayangan bulan di situ, kemudian dia menunjuk ke arah atas dimana juga terlihat ada bulan. Akhirnya RAJA PARSURATAN tidak dapat lagi mengelak dan dilakukanlah pembagian warisan setelah mereka kembali ke halaman rumah.

Lalu kemudian RAJA PARSURATAN berkata; “Sekarang di hadapan tua – tua aku akan membagi warisan peninggalan orang tua kita”. Beginilah pembagiannya:

1. Mengenai sawah, karena aku adalah anak dari istri pertama ayah, maka tanah persawahan yang pertama dialiri air adalah milikku dan karena ibu kita dua orang, maka tanah akan dibagi dua luasnya.

2. Mengenai semua kerbau milik mendiang ayah kita, karena aku adalah anak dari istri pertama ayah, maka paha depan (parjolo) setiap kerbau merupakan bagianku, sedangkan paha belakang adalah bagian kamu bertiga anak istri ayah yang kemudian (parpudi).

Pembagian warisan itu ditetapkan di hadapan tua – tua kampung dan tidak ada seorang pun yang berbicara menentang pembagian itu.

Narator sendiri yang adalah keturunan SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA sudah melihat langsung lokasi sawah warisan dari RAJA MARSUNDUNG yang dibagi dua itu. Kenyataannya setelah diamati; sawah di kampung Parsuratan terletak di hulu Aek Bolon yang mengairi persawahan di daerah itu, sedangkan sawah di kampung HUTABULU berada di hilir. Sekiranya musim kemarau melanda, maka kampung Parsuratanlah yang terlebih dahulu menikmati air setelah air dipakai baru kemudian dialirkan ke hilir.

Mengenai pembagian warisan ternak, di kalangan masyarakat Batak Toba bila hendak membagi ternak berkaki empat, maka ternak itu dibagi dua dan selalu dibagi menjadi sebelah – sebelah (sambariba). Namun RAJA PARSURATAN membagi dengan cara lembu dibagi berdasarkan paha depan (parjolo) dan paha belakang (parpudi). Hal ini sangat aneh dan dibalik keanehan itu sebenarnya RAJA PARSURATAN telah mengantisipasi ke depan supaya hanya dia yang selalu memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak sawah dan menarik pedati makanya dia membagi dengan cara yang demikian. Jadi karna hanya satu – satunya peristiwa pembagian kerbau yang demikian anehnya, maka orang kebanyakan sejak saat itu mengejek dengan sebutan ‘Parhorbo jolo’ terhadap RAJA PARSURATAN dan keturunannya. Sedangkan kepada ketiga bersaudara seibu orang menyebut mereka dengan ‘Parhorbo pudi’.

Bagi para pembaca yang bermarga atau boru SIMANJUNTAK narator mengajak dan berpesan bila kita ditanya; “SIMANJUNTAK mana kamu?” sebaiknya kita jawab “SIMANJUNTAK PARSURATAN” atau “SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA” sebab istilah ‘Parhorbo jolo’ dan ‘Parhorbo pudi’ merupakan ejekan orang Batak Toba tempo dulu terhadap pembagian warisan ternak kerbau kita. Ejekan itu berkembang dan kini dianggap sebagai suatu istilah di kalangan orang Batak Toba padahal bagi kita keturunan SIMANJUNTAK RAJA MARSUNDUNG sudah tidak ada lagi kerbau kita, kan?

Sebelumnya telah diceritakan bahwa RAJA HUTABULU sejak remaja sampai menjadi seorang pemuda sering berkunjung ke daerah Si Raja Oloan ke rumah Ompungnya (SI GODANG ULU SIHOTANG) baik itu karna mengantar jemput itonya (SI BORU NAOMPON) maupun hanya sekedar bertandang ke sana.

Suatu ketika dia melihat seorang Boru Tulang yang sangat cantik dan boleh dikatakan gadis tercantik di seluruh daerah Si Raja Oloan. Kemudian karena RAJA HUTABULU memang seorang pemuda pintar (simak kisah bagaimana ketika dia menghadapi abang tirinya, dia selalu tampil piawai dalam pemikiran dan pembicaraan) dan hal ini terdengar sampai ke daerah Si Raja Oloan. Boru Tulangnya tadi sudah pernah berkunjung ke Balige, yaitu ke tempat amang borunya (ayahnya RAJA HUTABULU). Jadi merupakan pilihan yang tepat jika RAJA HUTABULU mempersunting paribannya itu menjadi istrinya.

Suatu saat sewaktu suami istri RAJA HUTABULU dan Boru SIHOTANG duduk – duduk di depan rumahnya, melintaslah seorang yang buruk rupa dan Boru SIHOTANG menyeletuk; “Jelek sekali orang ini seperti beruk aku lihat” (versi Toba; “Roa nai jolma on songon bodat huida”). Perkataan itu kedengaran oleh orang tadi dan dia membalas; “Aku kamu bilang seperti beruk? Biarlah lahir anakmu yang seperti beruk!” (versi Toba; “Ahu didok ho songon bodat? Ba sai tubuma anakmu na songon bodat!”). Pada saat itu Boru SIHOTANG sedang mengandung anak pertamanya dan perkataan orang tadi selalu mengiangiang di telinganya.

Pada waktu akan melahirkan Boru SIHOTANG Na Uli pernah bermimpi ada seorang tua datang padanya dan mengatakan bahwa yang akan lahir darinya adalah bayi laki – laki yang memiliki kesaktian sebab itu tidak perlu kuatir atau kecewa apabila nantinya ada yang agak berbeda pada tubuhnya. Mimpinya ini diberitahukan pada suaminya dan mereka berdua merasa was – was menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Tibalah harinya, setelah bersalin diketahui bahwa sang bayi memiliki bentuk tulang punggung lebih panjang sekitar satu jari telunjuk dari bokongnya tampak seperti ekor yang pendek. Dan saat itu RAJA HUTABULU melirik keluar jendela rumahnya, tampak ada seorang tua berdiri di halaman rumahnya dan berkata; “Hei bapak, jangan bersusah hati karena anakmu itu adalah seorang anak sakti” (versi Toba; “He amang, unang ho marsak alana anakmi nahasaktian”). Setelah berkata demikian orang itu berubah menjadi londok dan langsung memanjat pohon enau kemudian hilang di antara pelepah enau. RAJA HUTABULU spontan berteriak; “Raja Hodong..Raja Hodong..Raja Odong..” (versi Toba; “Raja Pelepah..Raja Pelepah..Raja Pelepah..”). Setelah peristia itu bayi pertama itu pun diberi nama SI RAJA ODONG. Secara fisik SI RAJA ODONG sangat tampan rupanya sebab ibunya cantik dan ayahnya tampan dan gagah.

SI RAJA ODONG makin bertambah besar dan pada waktu dia belajar duduk ayahnya membuatkan bangku pendek yang ditengahnya dilubangi tempat tulang SI RAJA ODONG yang seperti ekor itu. Tidak banyak orang yang mengetahui keanehan ini karena masa itu belum ada celana. Pakaian orang Batak adalah ulos yang dililitkan menutupi badan yang disebut heba heba.

Menurut penyelidikan antropologi budaya Batak Toba, maka sejak keberadaannya orang Batak tidak pernah bertelanjang karena ulos Batak sama usianya sejak adanya SI RAJA BATAK (orang Batak pertama). Sebelum Belanda datang ke tanah Batak, maka ulos Batak dipakai sehari – hari sebagai berikut:

- Ulos yang menutupi badan disebut heba heba.

- Ulos yang menutupi bahu ke bawah disebut hande hande yang juga sering disandangkan di bahu.

- Ulos penutup kepala disebut saong saong dan bila diikatkan di kepala maka disebut bulang bulang atau tali tali.

Tingkat budaya berpakaian pada masa itu membuat SI RAJA ODONG tidak merasa asing atau minder jika bersosialisasi dengan orang lain. Hanya keluarga dekat saja yang mengetahui kelebihan SI RAJA ODONG ini.

Setelah beberapa tahun kemudian istri RAJA HUTABULU kembali mengandung dan selama mengandung dia selalu memohon tuah agar MULA JADI NA BOLON (Tuhan) memberikan seorang anak laki – laki lagi tetapi yang tidak mempunyai keanehan. Doanya pun terkabul dan lahirlah seorang anak laki – laki yang rupanya sama persis seperti abangnya. Bahkan setelah dewasa kedua anak RAJA HUTABULU ini sama besarnya dan banyak orang menyangka keduanya adalah saudara kembar. Begitu lahir dan ternyata bayinya laki – laki maka dia diberi nama TUMONGGO TUA yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya ‘memohon tuah melalui doa’.

Setelah kedua anak ini semakin dewasa mereka kelihatan tampan dan gagah melebihi ayah mereka. Banyak gadis yang tertarik dan jatuh cinta pada mereka. Tetapi apabila berkenalan lebih jauh dengan keduanya maka akan diketahui bahwa SI RAJA ODONG memiliki perbedaan dengan adiknya.

Setelah sekian lama saling mencinta dengan Boru SIHOTANG paribannya, TUMONGGO TUA ingin segera menikah. Namun orang tuanya menganjurkan kalau dia boleh menikah setelah abangnya menikah. Satu – satunya cara agar TUMONGGO TUA dapat segera menikah adalah dengan mencarikan seorang calon istri bagi abangnya. Lalu berangkatlah TUMONGGO TUA dengan sampan ke pulau Samosir. Di sana konon banyak gadis yang sampai berumur tua belum menikah karena ketatnya hukum bersaudara. Bagi kesatuan marga keturunan NAIAMBATON yang banyak bermukim di Samosir sampai sekarang masih tetap mempertahankan tradisi tidak boleh saling menikah antar sesama keturunan marga – marga NAIAMBATON.

Selama di atas sampan dalam perjalanannya TUMONGGO TUA selalu memohon kepada MULA JADI NA BOLON supaya dia bertemu dengan seorang gadis cantik untuk dilamar menjadi kakak ipar (angkang boru). Ketika berada di tengah danau Toba tiba – tiba angin bertiup kencang sekali (alogo lubis) dan menghantam sampannya hingga sampannya hancur. Dia mencoba sekuat tenaga berenang mencapai daratan dan berhasil. Setelah berada di tepi danau Toba dia tak sadarkan diri dan pingsan.

Ombak berdebur laksana irama musik yang menyambut kedatangan TUMONGGO TUA di situ di daerah Lontung, yaitu di Muara (sekarang persis di tempat pemandian Puteri RAJA SIANTURI). Dia terbaring hingga sore hari dia ditemukan oleh SI BORU ULI BASA Boru SIANTURI yang hendak mengambil kain cucian yang dijemur di tepi danau. Setelah melihat pemuda tampan itu BORU ULI BASA berkata; “Kalau kamu memang manusia, siapakah namamu? Kalau kamu seorang yang memiliki kesaktian maafkan aku tidak bermaksud menggangumu, tetapi kalau kamu manusia aku mau mendampingimu seandainya kamu membawaku pergi bersamamu dan aku menjadi istrimu” (versi Toba; “Molo na jolma do ho paboa ise goarmu. Molo na martua – tua do ho unangma muruk ho tu ahu ala ndang na manggugai ho ahu, alai molo jolma do ho olo do ahu mandongani ho aut tung olo ho mamboan ahu tu hutam gabe inantam”).

Samar – samar perkataan itu didengar oleh TUMONGGO TUA yang mulai siuman. Lalu dia mulai membuka matanya perlahan dan melihat ada seorang gadis cantik jelita di sebelahnya. Dia langsung mengucek matanya seakan tidak percaya akan apa yang dilihatnya kemudian dengan suara pelan dia berkata; “Apakah ini mimpi aku berada di sebelah puteri yang cantik. Sekiranya bukan mimpi apa gadis ini mau kalau aku membawanya menjadi menantu orang tuaku? (versi Toba; “Na marnipi do ahu nuaeng di lambung ni si boru na uli basa? Aut sura na so marnipi do ahu oloma nian boanonhu gabe parumaen ni damang dohot dainang”).

Mendengar ucapan itu BORU ULI BASA langsung memegang tangan TUMONGGO TUA lalu membangunkannya dan menuntun dia berjalan menuju rumah orang tua BORU ULI BASA sebab hari sudah sore. Sesampainya di rumah, keluarga BORU ULI BASA bergembira kedatangan tamu seorang pemuda yang tampan dan gagah. Dalam percakapan dengan orang tua BORU ULI BASA, TUMONGGO TUA memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa dia adalah cucu RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK dan anak RAJA HUTABULU dari Balige. Dia juga menjelaskan bagaimana dia bisa ada di sana dan apa maksud dari perjalanan jauhnya itu. Mendengar penjelasan itu BORU ULI BASA merasa gembira dalam hatinya dia terpikat akan ketampanan TUMONGGO TUA.

Setelah beberapa hari tinggal di daerah Lontung tejadi pembicaraan antara TUMONGGO TUA dan BORU ULI BASA yang intinya tentang kesediaan BORU ULI BASA agar menjadi menantu bagi orang tua TUMONGGO TUA. Jawaban dari BORU ULI BASA sangat jelas, yaitu dia mau dan bersedia. Akan tetapi sebaliknya apabila TUMONGGO TUA mendapat pertanyaan yang sama dia tidak menjawab secara jelas bersedia namun dia menjawab pertanyaan itu dengan perkataan; “Tatap wajahku dan perhatikanlah langkahku serta ketahuilah maksud kedatanganku” (versi Toba; “Berengma bohiku jala parateatehonma pardalanhu huhut antusima sangkap ni haroroku”).

BORU ULI BASA memang calon menantu RAJA HUTABULU tetapi bukan untuk menjadi istri bagi TUMONGGO TUA. Memang RAJA ODONG dan TUMONGGO TUA sangat mirip seperti saudara kembar disegala – galanya baik dilihat dari rupa, cara berjalan bahkan juga cara berbicara dan dari suara semuanya sama. Sangat sulit membedakan keduanya kecuali ini; RAJA ODONG memiliki kelebihan tulang belakang sepanjang jari telunjuk. Perbedaan mereka ini dirahasiakan TUMONGGO TUA demi harapan dia bisa direstui menikah setelah abangnya menikah.

Setelah berjanji bahwa mereka akan kembali bertemu, TUMONGGO TUA pamit dengan keluarga BORU ULI BASA untuk pulang ke Balige dan nanti dia akan kembali datang bersama orang tuanya melamar BORU ULI BASA.

Setibanya di Balige TUMONGGO TUA menceritakan perjalanannya kepada abang dan orang tuanya. Kemudian mereka menyusun rencana:

- TUMONGGO TUA dan orang tuanya segera melamar puteri RAJA SILALA LASIAK yaitu BORU ULI BASA dan selama mereka di sana sepanjang pembicaraan tidak boleh memanggil TUMONGGO TUA dengan namanya tetapi dengan nama SIMANJUNTAK.

- Pesta pernikahan diadakan di rumah pihak pengantin wanita (dialap jual) dan yang mendampingi BORU ULI BASA dalam acara adat sepenuh itu (ulaon na gok) adalah TUMONGGO TUA hingga dalam perjalanan di danau Toba sampai Balige. Bila sudah tiba di dermaga maka TUMONGGO TUA turun dari perahu besar (solu bolon) dan mengikatkan tali perahu di dermaga. Bersamaan dengan itu RAJA ODONG sudah siap dan sesuai tanda RAJA ODONG langsung menggantikan posisi adiknya naik ke perahu untuk menuntun BORU ULI BASA dan seterusnya mendampinginya menjadi suami bagi BORU ULI BASA.

- Pakaian yang dikenakan kedua abang beradik ini harus dibuat sama persis. Setelah mengikatkan tali perahu di dermaga maka TUMONGGO TUA harus menghilang untuk sementara waktu dan pergi ke daerah Si Raja Oloan dan tinggal di sana di rumah Tulangnya sampai BORU ULI BASA melahirkan anak pertamanya bagi RAJA ODONG.

Setelah rencana itu disepakati maka ditentukanlah kapan mereka akan berangkat. Rencana pun dilaksanakan dan pesta pernikahan meriah di daerah Muara berlangsung mulus sesuai rencana. Setelah itu mereka bertolak pulang menuju Balige melalui danau Toba. Sesampainya di dermaga di Balige yaitu tepatnya di Lumban Bul Bul sekira jam tujuh malam dan keadaan seperti ini dalam bahasa Batak Toba disebut urngum (jarak pandang mata tidak lagi memungkinkan melihat orang di kejauhan).

Di dermaga RAJA ODONG telah menunggu kedatangan rombongan keluarganya bersama BORU ULI BASA. Setelah perahu besar itu tiba dan merapat ke dermaga, turunlah TUMONGGO TUA untuk mengikatkan tali perahu lalu langsung pergi menghilang di kegelapan dan kemudian RAJA ODONG langsung naik ke perahu menjemput BORU ULI BASA serta berjalan berdampingan sampai ke rumah RAJA HUTABULU. Malam itu diadakan acara penyambutan (pangharoanion). Mulai saat itu RAJA ODONG yang mendampingi BORU ULI BASA, sedangkan adiknya sudah pergi sesuai rencana ke rumah Tulangnya.

Begitulah kisah pernikahan RAJA ODONG dengan BORU ULI BASA Boru SIANTURI sehingga ada sindiran seperti ini:

“Si RAJA ODONG papiu piu tali, tali ijuk sian bagot. Anggina manandangi, alai ibana diharoani jala mandapot”

Pekerjaan sehari – hari RAJA ODONG adalah memintal tali yang dibuat dari ijuk pohon enau. Konon pada masa itu, tali buatan RAJA ODONG ini paling baik kualitasnya dan harga jualnya tinggi di pasar Balige dan Laguboti bahkan sampai ke Porsea dan Siborong Borong. RAJA ODONG selalu duduk di bangku khusus yang berlubang di tengahnya dan kemanapun dia pergi bangku itu selalu dibawanya.

Sejak menikah dengan RAJA ODONG, BORU ULI BASA tidak pernah bekerja di sawah. Pekerjaannya adalah menggembalakan kambing. Ternak kambingnya gemuk – gemuk dan jika beranak sering sampai tiga atau empat sehingga keluarga RAJA ODONG memiliki banyak sekali ternak kambing.

Kemudian bayi pertama lahir bagi keluarga RAJA ODONG dan anak pertama mereka ini diberi nama RAJA BOLAK HAMBING atau RAJA PARHAMBING. Demikianlah seterusnya mereka dikaruniai tujuh orang anak laki – laki:

1. RAJA BOLAK HAMBING (RAJA PARHAMBING)

2. TUAN NAHODA RAJA

3. MAHARIA RAJA (MANGORONG BAHUT)

4. RAJA MARLEANG (MARLEANG BOSI)

5. RAJA MANORHAP (RAJA SITUNGGAL)

6. RAJA MAEGA gelar Ompu TOGA OLOAN

7, DINGKIR ULUBALANG gelar PARTAHI OLOAN (DATU MAEGA)

Namun sampai sekarang baru keturunan RAJA PARHAMBING dan TUAN NAHODA RAJA saja yang sudah mengetahui bahwa mereka adalah keturunan dari RAJA ODONG.

Tentang TUMONGGO TUA, setelah berita kelahiran anak pertama RAJA ODONG abangnya sampai kepadanya, betapa bahagianya dia dan paribannya. Lalu setelah mendengar kabar baik itu mereka berdua datang berkunjung ke Balige dan memastikan bahwa rombongan RAJA HUTABULU akan pergi melamar Boru SIHOTANG (pariban TUMONGGO TUA tersebut).

http://simanjuntak.or.id/2008/01/08/cerita-tentang-simanjuntak/
http://www.mycultured.co.cc/2010/09/sejarah-marga-simanjuntak.html

Arti Fam Orang Manado

Buat orang Manado, dalam hal ini suku besar Minahasa, fam (family-name) mewakili jati diri, citra, dan bahkan martabat serta harga diri. Fam diturunkan berdasarkan garis keturunan orang tua laki-laki (patrilinial) dan wajib digunakan sebagai harkat serta lambang sebagai generasi penerus keluarga.


Setelah menikah, fam dari laki-laki akan menjadi nama keluarga. Seorang istri wajib menyandang fam dari suaminya didepan fam-nya sendiri. Anak-anakpun wajib menyandang fam dari ayah. Dan sekali lagi, keluarga wajib menjunjung tinggi martabat dari fam yang disandangnya.


Buat orang Minahasa, fam sangat dijunjung tinggi. Sayangnya, banyak generasi sekarang yang tak mengerti asal usul fam di daerahnya, bahkan fam sendiri kadang tidak tau artinya.


Fam yang dipakai turun temurun saat ini berasal dari nama nenek moyang orang Minahasa. Nama-nama itu biasanya mencerminkan pekerjaan, sifat, tempat tinggal, atau usaha dari pemilik nama pertama itu.


Berikut rangkuman oleh seorang sosiolog asal Manado, FS Watuseke.


Dalam bahasa Minahasa terutama dimana dalam bahasa sehari-hari Melayu Manado "nama keluarga" disebut Fam. Dimana kata ini sebenarnya berasal dari bahasa Belanda van yang kemudian setelah melalui beberapa proses disebut sebagai Fam.


Penggunaan fam tersebut dilakukan sekitar awal abad 19 di negeri Belanda. Waktu itu rakyatnya diwajibkan mempunyai Fam. Sebelumnya memang sudah punya Fam akan tetapi belum menyeluruh.


Demikian pula yang berlangsung di Minahasa kira-kira pada abad 19. Sebelumnya memang ada orang yang memakainya , tetapi belum menyeluruh. Seperti halnya Bastian Saway, Fam tersebut ada sejak akhir abad ke 17. Pedro Ranty abad 18 dan kemudian awal abad ke 19 terdapat nama Fam seperti Matinus Dotulong (akhir abad 18, Hendrik Dotulong, Frederik Lumingkewas, Abraham Lotulong, dlll).


Pada tahun 1831 tibalah di Minahasa dua orang penginjil Protestan JF Riedel dan JF Schwarz di Langowan. Mereka sebagai penginjil dan mengabarkan injil sekaligus membaptis anggota baru yang masuk kristen. Pada waktu itu setiap orang dipermandikan mendapat sebuah nama Alkitab atau nama Eropa, seperti Daniel, Jan, Piet, Frans dan lainnya. Pada saat pembaptisan orang tersebut diberi sebuah nama Fam, nama keluarga.


Biasanya nama tersebut nama ayah (nama satu-satunya yang dipakai) yang disusul dengan nama baptis atau Fam. Disamping nama ayah, nama tersebut juga diambil dari nama nenek pria. Biasanya nama ayah atau nenek pria itu adalah nama asli Minahasa, seperti Watuseke, Sarapung, Korengkeng, Turang, Sondakh dan lainnya. Nama baptis tersebut dijadikan nama panggilan yang diambil dari nama-nama di Alkitab atau dari negeri Eropa barat terutama dari Belanda. Karena itulah setiap orang Minahasa bernama panggilan atau nama sehari-hari dari Alkitab dan Belanda.


Berdasarkan data tersebut, nama orang Minahasa atau Fam sekarang diambil dari nama panggilan setiap orang pria. Sedangkan nama wanita tidak diturunkan sehingga dilupakan oleh sebagian orang.


Dengan hanya mengenal nama panggilan satu-satunya, tentu ada nama pengenal jika nama itu dipakai beberapa orang. Hal itu dibedakan dengan adanya sikap, cacat, atau tanda sesuatu pada orang yang kita maksud. Seperti Wanta Kento jika ia pincang, Wilem Todeo Kokong (Wilem berkepala lonjong), Min Pirop (min bermata buta) dan lainnya.


Ada nama-nama yang menyatakan sifat dari orang yang dimasud, seperti ia seorang pemberani dinamai Mamauaya dari kata wuaya atau berani. Mama'it atau Ma'it orang yang selalu memasak agak kebanyakan garam. Oki atau kecil adalah orang selalu mengecilkan sesuatu dan sebagainya.


Masih banyak nama-nama yang mengikuti sifat, kepribadian, tempat tinggal, pekerjaan, perjuangan dan lainnya. Kesemua ini pada akhirnya dipergunakan oleh orang Minahasa walaupun dia berada di luar daerah. Fam tersebut khususnya mengikuti garis keturunan orang tua laki-laki.


Sebagai contoh, karena pekerjaannya selalu menebang pohon, disebut Pele. Sesuai tempat tinggal, dimana daerahnya selalu terjadi kebakaran karena adanya kilat dipanggil Pongilatan. Kalau dia tinggal pada suatu bukit atau gunung ia disebut Wuntu. Kalau dia mau naik bukit atau gunung disebut Mawuntu. Suatu tempat yang bersifat serong atau miring dikatakan Kawilaran. Kalau menerka disebut Tumeleap. Tempat dimana sering dicungkil tanahnya dengan sebuah tongkat disebut Tu'ila dan pemiliknya dinamai demikian.




Sedangkan pekerjaannya sering memotong dengan sebuah parang disebut Sumanti. Di dalam bahasa Tombulu kata ini mengandung arti lain, yaitu batu pujaan. Dalam bahasa Tondano disebut Panimbe. Ranting-ranting kering yang disebut Rankang dipergunakan untuk merintangi tempat jalan.[/justify]




Daftar Fam orang Minahasa/Manado




A




Abutan : Pembersih




Adam : Tenang




Agou : Anoa




Akai : Penjaga




Aling : Pembawa




Alui : Pelipur lara




Amoi : Teman sekerja




Andu : Tempat bersenang




Anes : Tawakal




Angkouw : Keemasan




Anis : Penghalau




Antou : Nama kembang




Arina : Tiang tengah




Assah : Pembuka jalan




Awondatu : Yang dikehendaki




Awui : Senang




B




Batas : Pemutus




Bella : Pasukan




Bokau : Bibit emas




Bokong : Mengikat




Bolang : Penangkap ikan




Bolung : Perisai




Bororing : Pembuat roreng




Boyoh : Pendamai




Buyung : Penurut




D




Damongilala: Benteng




Damopoli : Jujur dan adil




Dapu : Mematahkan


Datu : Pemimpin




Datumbanua : Kepala Walak




Dayoh : Karunia




Dededaka : Panah lidi hitam




Dendeng : Suara yang terang




Dengah : Hakim




Dewat : Menyeberangi




Dien : Dihiasi




Dimpudus : Cerdik kepalanya




Dipan : Ukuran depa




Dompis : Pekerja baik




Dondo : Prinsip




Dondokambei : Prinsip tetap




Donsu : Jimat penolak




Doodoh : Penggerak




Doringin : Penari




Dotulong : Pahlawan besar




Dumais : Menggenapi




Dumanauw : Pemenang




Dumbi : Didepan




Dungus : Berkedudukan




Dusaw : Pembuka




E




Egam : Menjaga




Egetan : Lonceng kecil




Ekel : Lirikan




Elean : Arah barat




Eman : Dipercaya




Emor : Lengkap




Endei : Dekat




Engka : Pegang




Enoch : Pilihan




Ering : Kurang besar




G




Ganda : Bambu besar




Gerung : Bunga ukiran




Gerungan : Bunga-bunga ukiran




Gigir : Mengikis rata




Gimon : Rupa yang indah




Girot : Pemutus




Goni : Cerdik




Goniwala : Cerdik akal




Gonta : Langkah




Gosal : Timbunan




Gumalag : Menanduk




Gumansing: Pembujuk




Gumion : Pegangan




I




Ilat : Menunggu




Imbar : Yang dibuang




Inarai : Baju jimat




Ingkiriwang : Dari angkasa




Inolatan : Pegang tangan




Intama : Pembawa




Item : Hitam




K




Kaat : Penglihatan




Kaawoan : Mampu kerja




Kaendo : Teman mapalus




Kaeng : Sempit




Kaes : Menyiram




Kainde : Ditakuti




Kairupan : Kekuatan




Kalalo : Amat berani




Kalangi : Dari langit




Kalempou : Mengunjungi




Kalempouw : Kawan baik




Kalengkongan: Tepat berjatuhan




Kalesaran : Pusat segala usaha




Kalici : Mempesona




Kaligis : Sama keluarga




Kalitow : Tertinggi




Kaloh : Sahabat setia




Kalonta : Perisai kayu




Kalumata : Pedang perang




Kamagi : Bunga hias




Kambey : Bunga hias




Kambong : Obor




Kamu : Pegang teguh




Kandio : Amat kecil berarti




Kandou : Bintang pagi




Kapantouw : Pembuat




Kaparang : Pandai mengukir




Kapele : Amat tegas




Kapoh : Pemuja




Kapoyos : Dukun pijat




Karamoy : Penunjuk




Karau : Antara




Karinda : Kawan serumah




Karundeng : Pengusut




Karuyan ; Di kejauhan




Karwur : Subur




Kasenda : Kawan sehidangan




Katopo : Keturunan opo




Katuuk : Pemegang rahasia




Kaunang : Cerdik




Kawatu : Pendirian teguh




Kawengian : Bintang sore




Kawilarang : Diatas terbuka




Kawulusan : Benteng




Kawung : Tersusun keatas




Kawuwung : Berkelebihan




Keincem : Penyimpan rahasia




Kekung : Pedang perisai




Keles : Bayi




Kelung : Perisah




Kembal : Agak lemah




Kembau : Kurang kuat




Kembuan : Sumber




Kenap : Genapkan




Kepel : Penakluk




Kerap : Seiring




Kere : Testa




Kesek : Penuh sesak




Kewas : Tumbuhan




Khodong : Kecil, menentukan




Kilapong : Batu kilat




Kindangen : Yang diberkati




Kirangen : Dimalui




Kiroiyan : Pengembara




Kodongan : Mengecil




Kojongian : Penggeleng kepala




Koleangan : Pemain




Kolibu : Banyak bekerja




Koloday : Saudara lelaki




Koly : Suka kerja




Komaling : Pembawa




Komaling : Penghormat




Kondoi : Lurus kedudukannya




Kontul : Kerja sendiri




Kopalit : Pendamai




Koraah : Suka panas matahari




Korah : Suka panas matahari




Korengkeng : Penakluk




Korompis : Hasil kerja yang baik




Koropitan : Penghukum




Korouw : Perkasa




Korua : Membagi dua




Kotambunan : Penimbun




Kountud : Kerja sendiri




Kowaas : Penggemar barang kuno




Kowonbon : Tahan uji




Kowu : Penempah




Kowulur : Ke gunung




Koyansouw : Pengipas




Kuhu : Menampakkan




Kulit : Kecukupan




Kullit : Cukup




Kumaat : Melihat




Kumaunang : Penyelidik cerdik




Kumayas : Membongkar




Kumendong : Pengumpul tenaga




Kumolontang : Melompat keliling




Kumontoy : Lurus hati




Kupon : Diharapkan




Kusen : Penutup




Kusoi : Cerdik




L




Lala : Berjalan




Lalamentik : Semut api




Lalowang : Perlumba




Lalu : Pendesak




Laluyan : Melintasi




Lambogia : Paras jernih




Lampah : Tak seimbang




Lampus : Tembus




Lanes : Kurang semangat




Langelo : Menapis




Langi : Tinggi




Langitan : Tinggian




Langkai : Dihormati




Languyu : Tanpa tujuan




Lantang : Berharga




Lantu : Penentu




Laoh : Manis




Lapian : Teladan




Lasut : Pemikir cerdas




Legi : Menipis




Legoh : Penelan manis pahit




Lembong : Pembalas budi




Lempas : Kedudukan




Lempou : Kunjungan




Lengkey : Dimuliakan




Lengkoan : Penghalang




Lengkong : Pendidik




Lensun : Diharapkan




Leong : Main




Lepar : Tujuan




Lesar : Halaman




Lewu : Tersendiri




Liando : Penimbang




Limbat : Berganti




Limbong : Ingat budi




Limpele : Penurut




Lincewas : Tumbuhan obat




Lintang : Bunyi-bunyian




Lintong : Pusat persoalan




Liogu : Jernih




Litow : Tinggi




Liu : Bijaksana




Liwe : Air mata




Loho : Perindu




Loing : Pengawas




Lolombulan : Bulan purnama




Lolong : Bulan




Lomboan : Lemparan keatas




Lompoliu : Pengajar




Lonan : Ramah




Londa : Perahu




Londok : Tinggi




Longdong : Penjaga




Lontaan : Pembuka jalan




Lontoh : Tinggi keatas




Losung : Pendesak




Lowai : Bayi lelaki




Lowing : Mengawasi




Ludong : Kepala negeri




Lumanauw : Biasa berenang




Lumangkun : Penyimpan rahasia




Lumatau : Berpengetahuan




Lumempouw : Meliwati




Lumenta : Terbit




Lumentut : Bukti




Lumi : Meminggir




Lumingas : Membersihkan




Lumingkewas : Tepat dlm segala hal




Lumintang : Menunggalkan




Luminuut : Berpeluh




Lumoindong : Melindungi




Lumondong : Berlindung




Lumowa : Meliwati




Lumunon : Muka bercahaya




Luntungan : Memiliki jambul




Lutulung : Penolong




M




Maengkom : Penakluk




Maengkong : Mendidik




Mailangkai : Yang ditinggikan




Mailoor : Disenangi




Maindoka : Kecukupan




Mainsouw : Bersaudara 9




Mait : Obat pahit




Makadada : Memuaskan




Makal : Penutup lubang




Makaley : Melindungi/menutup




Makaliwe : Air mata




Makangares : Mengharap




Makaoron : Mengulung musuh




Makarawis : Puncak gunung




Makarawung : Tinggi usaha




Makatuuk : Hidup sentosa




Makawalang : Orang kaya




Makawulur : Dihormati




Makiolol : Selalu ikut




Makisanti : Dengan pedang




Malingkas : Tetap berada




Mamahit : Dukun obat pahit




Mamangkey : Pengangkat




Mamantouw : Penubuat




Mamanua : Pembuka negeri




Mamarimbing : Pemberi kesuburan




Mamba : Ditetapkan




Mambo : Penetapan




Mambu : Pemberi supa




Mamengko : Pemberi teka-teki




Mamentu : Pemberi rasa




Mamesah : Pembuka rahasia




Mamoto : Penjelasan




Mamuaya : Pemberi




Mamuntu : Mencapai puncak




Mamusung : Penangkal




Manalu : Ditingkatkan




Manampiring : Membuat jalan




Manangkod : Menahan musuh




Manapa : Pertanyaan




Manarisip : Membetulkan




Manaroinsong: Sumber air




Manayang : Pergi jauh




Mandagi : Menghiasi bunga




Mandang : Melambung tinggi




Mandey : Pandai




Manebu : Dewa peninjau




Manese : Bertindak dahulu




Mangare : Minta dibujuk




Mangempis : Merendahkan diri




Mangindaan : Tahan uji




Mangkey : Angkat




Mangowal : Pemancung




Mangundap : Berbahaya




Manimporok : Ke puncak




Manopo : Bersama datuk (opo)




Manorek : Mengganggu




Mantik : Meneliti/menulis




Mantiri : Pembuat benda halus




Mantoauw : Nubuat




Manua : Negeri




Manurip : Menyisip




Manus : Taruhan




Mapaliey : Menakuti musuh




Maramis : Menggenapi




Marentek : Tukang besi




Maringka : Berkekuatan




Masie : Tumbuhan obat




Masinambau : Tujuan pasti




Masing : Bergaram




Masoko : Pokok




Matindas : Ramping




Maukar : Menjaga




Mawei : Pembimbing




Maweru : Pembaharu




Mawikere : Teladan




Mawuntu : Kedudukan tinggi




Mekel : Lindungi




Mema : Berbuat




Mende : Pemalu




Mendur : Berguntur




Mengko : Teka-teki




Mentang : Pemutus




Mentu : Rasa




Mesak : Pendesak




Mewengkang : Pembuka jalan




Mewoh : Lemah lembut




Mince : Main




Mincelungan : Main perisai




Minder : Menderu




Mingkid : Pemberi acuan/konsep




Mogot : Penebus




Mokalu : Bersaudara




Mokolensang : Berdiam diri




Mokorimban : Pemberani




Momongan : Pemilik




Momor : Persatuan yang baik




Momuat : Pengurus jamuan




Mondigir : Meratakan




Mondong : Menyembunyikan




Mondoringin : Meratakan jalan




Mondou : Berangkat pagi




Mongi : Kuat kekar




Mongilala : Pengusir musuh




Mongisidi : Saksi dan bukti




Mongkaren : Membongkar




Mongkau : Mencari emas




Mongkol : Mematung




Mongula : Pemohon berkat




Moniaga : Kebesaran




Moninca : Pembuah ramai




Moningka : Penambah tenaga




Moniung : Menangis kecil




Mononimbar : Suka memberi




Mononutu : Pekerja tekun




Montolalu : Pembagi tugas




Montong : Pembawa




Montung : Pengangkat




Motto : Jelas




Muaya : Berani




Mudeng : Berdengung jauh




Mukuan : Mempunyai buku




Mumek : Penyelidik




Mumu : Simpanan cukup




Mundung : Bernaung




Muntu : Gunung




Muntu untu : Gunung bersusun




Muntuan : Ke gunung




Musak : Didesak




Mussu : Penjaga setia




N




Nangka : Diangkat




Nangon : Diangkat




Nangoy : Dipikul




Naray : Jimat




Nayoan : Diberi berkat




Nelwan : Tempat terbang




Nender : Gerakan




Ngala : Dirintangi




Ngangi : Di hati




Ngantung : Ditimbulkan




Ngayouw : Dmajukan




Ngion : Diperoleh




O




Ogi : Goyang




Ogot : Hakimi




Ogotan : Kena dendam




Oleng : Pikulan




Oley : Teladan




Ombeng : Kelebihan




Ombu : Cetakan rupa




Ompi : Tertutuo




Ondang : Pedang




Onsu : Jimat




Opit : Jepitan




Oroh : Perselisihan




Otay : Bertawakal




P




Paat : Pengangkat




Pai : Besar




Paila : Cukup besar




Pakasi : Pemberian




Palangiten : Sinar matahari




Palar : Tapak tangan




Palenewen : Dibenamkan




Palenteng : Peniup




Palilingan : Nasehat baik




Palit : Bekas luka




Panambunan : Timbunan besar




Panda : Pinter




Pandean : Amat pandai




Pandelaki : Pemegang bibit




Pandey : Pinter, pandai




Pandi : Penghancur




Pandong : Tenaga kuat




Pangalila : Berlebihan




Pangau : Jauh kedalam




Pangemanan : Dipercaya




Pangila : Berlebihan




Pangkerego : Suara nyaring




Pangkey : Diangkat




Pantonuwu : Tegas




Pantouw : Penolong bijaksana




Parengkuan : Kepala jimat




Paruntu : Tempat ketinggian




Paseki : Pengikat




Pasla : Tepat tujuan




Pauner : Tengah




Pele : Jimat




Pelengkahu : Emas tulen




Pendang : Pengajar




Pepah : Lemah lembut




Pesik : Pancaran bara




Pesot : Cekatan




Piay : Biasa




Pinangkaan : Tempat yang tinggi




Pinantik : Ditulis




Pinaria : Hubungan erat




Pinontoan : Menunggu




Pioh : Cucu




Piri : Semua satu




Pitong : Memungut




Pitoy : Diikuti




Podung : Dijunjung




Pola : Pengajak




Poli : Tempat suci




Polii : Pelita




Polimpong : Didewakan




Politon : Gembira selalu




Poluakan : Air berkumpul




Pomantouw : Penubuat




Ponamon : Pengasih




Pondaag : Pendamai




Pongayouw : Penghulu perang




Ponggawa : Pemberani




Pongilatan : Berkilat




Pongoh : Berisi padat




Ponosingon : Terbang




Pontoan : Menunggu




Pontoan : Menunggu




Pontoh : Pendek




Pontororing : Bercahaya




Poraweouw : Penunjukan




Porayouw : Perenang




Porong : Tudung kepala




Posumah : Pembagi




Potu : Tekun




Poyouw : Yang diberikan




Pua : Buah




Pungus : Pengawas




Punuh : Orang terdahulu




Purukan : Punya kedudukan




Pusung : Penangkal serangan




Putong : Penyelidik




R




Raintung : Daun bergerigi




Rambi : Bunyi merdu




Rambing : Bunyi suara merdu




Rambitan : Tambahan bunyi




Rampangilei : Kembar bersih




Rampen : Kelebihan




Rampengan : Berkelebihan




Ransun : Bawang




Ranti : Pedang




Rantung : Terapung




Raranta : Naik tangga




Rares : Sehat




Rarun : Sudah tua




Rasu : Penyimpan




Ratag : Terlepas




Ratu : Batu jumat




Ratulangi : Jimat dari langit




Ratumbuisang: Batu berbintik




Ratuwalangaouw: Batu berantai




Ratuwalangon: Batu panjang




Ratuwandang : Batu merah




Rau : Jauh




Rauta : Dewata




Regar : Bebas




Rei : Bebas celaka




Rembang : Burung rawa




Rembet : Berpegang teguh




Rempas : Memasak




Rengku : Tundukan




Rengkuan : Ditunduki




Rengkung : Dihormati




Repi : Pemikir




Retor : Penghalang




Rimper : Potong rata




Rindengan : Bergerigi




Rindengan : Sama-sama




Rindo-rindo : Suara gemuruh




Robot : Lebih




Rogahang : Berkeringat




Rogi : Banyak bicara




Rolangon : Berantai




Rolos : Kepala




Rombot : Dilebihi




Rompas : Penyimpan rahasia




Rompis : Pekerja baik/rukun




Rondo : Lurus




Rondonuwu : Bicara lurus




Rooro : Penggerak




Rori : Dihormati




Rorimpandey : Sempurna




Roring : Kemuliaan




Rorintulus : Cahaya




Rosok : Tepat




Ruaw : Bulan purnama




Ruidengan : Bersama




Rumagit : Menyambar




Rumambi : Membunyikan




Rumampen : Jadi satu




Rumampuk : Memutuskan




Rumayar : Mengibarkan




Rumbay : Tidak perduli




Rumende : Mendekati




Rumengan : Sejaman




Rumenser : Tetesan air




Rumimpunu : Yang dimuka




Rumincap : Berhati baik




Rumokoy : Membangunkan




Rumpesak : Kedudukan




Runturambi : Kehormatan




S




Salangka : Benda persembahan




Salendu : Banyak ide




Sambouw : Bunga kayu




Sambuaga : Bunga kayu cempaka




Sambul : Berlimpah




Sambur : Melimpah




Samola : Membesar




Sangkaeng : Paras kecil




Sangkal : Satu paras




Sarapung : Perkasa




Saraun : Sepintas remaja




Sarayar : Buka jemuran




Sariowan : Pelancong




Sarundayang : Pengiring




Saul : Lengah




Seke : Perorangan




Seko : Sentakan




Sembel : Penuh




Sembung : Bunga




Semeke : Tertawa




Senduk : Senang




Sengke : Guling




Sengkey : Pengguling




Senouw : Cepat




Sepang : Cabang jalan




Sigar : Kaya




Sigarlaki : Kekayaan




Simbar : Terbuang




Simbawa : Banyak kemauan




Sinaulan : Penasehat




Singal : Perintang musuh




Singkoh : Dibatasi




Sinolungan : Memprakarsai




Sirang : Potongan




Siwu : Penghancur musuh




Siwy : Siulan




Solang : Pedang




Somba : Pelindung




Sompi : Penyimpan rahasia




Sompotan : Meluputkan




Sondakh : Pengawas




Soputan : Letusan




Sorongan : Bergeser




Suak : Kepala




Sualang : Karunia




Suatan : Pengharapan




Sumaiku : Panjang idenya




Sumakud : Menewaskan




Sumakul : Menewaskan




Sumangkud : Terikat




Sumanti : Mempergunakan




Sumarandak : Gemerincing




Sumarauw : Pendidik




Sumele : Pembatas




Sumendap : Menyinari




Sumesei : Pengawas




Sumilat : Mengangkat




Sumlang : Main pedang




Sumolang : Memainkan pedang




Sumual : Memiliki kelebihan




Sumuan : Mengesahkan




Sundah : Tidak menetap




Sungkudon : Buah persembahan




Suot : Puas




Supit : Menjepit musuh




Surentu : Banyak bicara




Suwu : Serbu




T




Taas : Kuat




Tairas : Terangkat dari dalam




Talumepa : Berjalan didaratan




Talumewo : Perusak




Tambahani : Senang bersih




Tambalean : Menuju Barat




Tambarici : Dibelakang




Tambariki : Dibelakang




Tambayong : Gemar kekayaan




Tambengi : Amat cepat




Tambingon : Keliling




Tamboto : Menghias kepala




Tambun : Timbun




Tambunan : Timbunan




Tambuntuan : Puncak tinggi




Tambuwun : Menandingi




Tamon : Disayangi




Tampa : Bunga




Tampanatu : Bunga api




Tampanguma : Bunga mekar




Tampemawa : Turun kelembah




Tampemawa : Turun kelembah




Tampenawas : Memotong daun




Tampi : Setia




Tampinongkol: Suka berkelahi




Tandayu : Pemuji




Tangka : Amat tinggi




Tangkere : Teladan




Tangkow : Nyanyian




Tangkudung : Perisai pelindung




Tangkulung : Perisai pelinding




Tanod : Tambu




Tanor : Tambur




Tanos : Teratur




Tarandung : Jalan




Taroreh : Diangkat




Taulu : Dijunjung




Tawas : Penawar mujarab




Tendean : Tempat berpijak




Tengges : Tempat memasak




Tenggor : Menghilang




Tengker : Bergemuruh




Terok : Pedagang keliling




Tidayoh : Senang dihormati




Tiendas : Berkurang




Tikoalu : Penakluk




Tikonuwu : Pandai bicara




Tilaar : Kerinduan




Timbuleng : Pemikul




Timpal : Persekutuan




Tinangon : Terangkat




Tindengen : Pemalu




Tintingon : Melambung




Tirayoh : Senang dihormati




Tiwa : Menaiki puncak




Tiwow : Berniat




Toalu : Didepan




Todar : Bertahan




Togas : Pantang surut




Tololiu : Penghambat




Tombeng : Secepat angin




Tombokan : Berkelebihan




Tombokan : Pemukul akhir




Tompodung : Dijunjung




Tompunu : Membuyarkan musuh




Tongkeles : Percepat




Tooi : Pengikut




Torar : Biasa matahari




Torek : Berkekurangan




Towo : Dari atas




Tuegeh : Tumpukan




Tuera : Perintah




Tulandi : Pemecah batu




Tular : Penasehat




Tulenan : Tetap tolong




Tulung : Pandai menolong




Tulus : Penengah




Tulusan : Menengahi




Tumanduk : Pelindung




Tumangkeng : Merombak




Tumatar : Kebiasaan




Tumbei : Berkat




Tumbelaka : Diberkati




Tumbol : Penopang




Tumbuan : Kaya




Tumembouw : Berteman




Tumengkol : Penahan




Tumewu : Melenyapkan




Tumilaar : Yang dirindukan




Tumilesar : Telentang




Tumimomor : Tempat yang baik




Tumiwa : Ingatan




Tumiwang : Mengingat




Tumober : Hadiah




Tumondo : Tujuan pasti




Tumonggor : Disiapkan




Tumundo : Pembawa terang




Tumurang : Pemberi bibit




Tumuyu : Yang dituju




Tunas : Asli




Tundalangi : Tatapan dari langit




Tungka : Terangkat




Turang : Menopang




Turangan : Berkelebihan




Tuwaidan : Lengkap




Tuyu : Penunjuk




Tuyuwale : Menuju rumah




U




Uguy : Pembawa rejeki




Ukus : Kurang gemuk




Ulaan : Ditakuti




Umbas : Kuat bersih




Umboh : Penolak bahaya




Umpel : Menyenangkan




Undap : Cahaya sinar




Unsulangi : Diatas




Untu : Gunung




W




Waani : Pahlawan




Wagei : Tertarik




Wagiu : Cantik/rupawan




Waha : Bara api




Wahon : Moga-moga




Wakari : Teman serumah




Wala : Cahaya




Walalangi : Cahaya dari langit




Walanda : Cahaya berlalu




Walandouw : Cahaya siang




Walangitan : Cahaya kilat




Walean : Komplek rumah




Walebangko : Rumah besar




Walelang : Rumah tinggi




Waleleng : Rumah tersendiri




Walian : Dukun




Walintukan : Taufan




Waluyan : Lewat




Wanei : Prajurit




Wangania : Buat sekarang




Wangko : Besar




Wantah : Patokan




Wantania : Patokan tetap




Wantasen : Yang jadi patokan




Wariki : Pendidik




Watah : Berani




Watti : Nubut




Watugigir : Batu licin




Watuna : Biji bersih




Watung : Timbul terus




Watupongoh : Teguh




Waturandang : Batu merah




Watuseke : Berani




Wauran : Cabut pilihan




Wawoh : Ketinggian




Wawointama : Cita-cita tinggi




Wawolangi : Di ketinggian




Wawolumaya : Diatas puncak




Waworuntu : Diatas gunung




Weku : Penasehat




Welong : Kurang daya




Welong : Pemikul




Wenas : Penyembuh




Wenur : Persembahan




Weol : Penasehat




Wetik : Berperan




Wilar : Pembuka




Winerungan : Menghiasi




Winokan : Men coba




Woimbon : Bercahaya




Wokas : Penyelidik




Wola : Cahaya




Wondal : Jimat




Wongkar : Membangun




Wonok : Peruntuk




Wonte : Kuat teguh




Wooy : Hujan rahmat




Worang : Kuat ikatan




Worotikan : Pancarana api




Wotulo : Pembersih




Wowilang : Pendorong




Wowor : Obat kesohor




Wuisan : Pengusir




Wuisang : Mengusir




Wulur : Puncak




Wungkana : Gelang jimat




Wungow : Bicara seenaknya




Wuntu : Gunung




Wurangian : Pemarah




Wuwung : Kelebihan




Wuwungan : Diatas atap






(Oleh : W. J. Pangemanan)




NB: Mohon maaf jika mungkin ada yang Fam nya tidak tercantum, bukan salah saya, bukan salah orang Manado, bukan salah sumber info datanya, tapi mungkin datanya kurang akurat. Jika ternyata ada, mohon dibantu dengan mengkonfirmasi data Fam nya dan maknanya. Terima kasih.




http://paguyubanpulukadang.forumotion.net/manado-minahasa-sulut-gorontalo-f19/arti-fam-orang-manado-t589.htm